25.7 C
Indonesia
Kamis, Oktober 22, 2026
Beranda Nasional Amnesti, Junaidi : Blunder Politik Megawati

Amnesti, Junaidi : Blunder Politik Megawati

Foto : Junaidi Rusli/Direktur Media dan Komunikasi Index Politica

BULETIN TANGERANG COM – Junaidi Rusli merupakan Wartawan senior angkat bicara atas Keputusan Megawati Soekarnoputri menunjuk kembali Hasto Kristiyanto sebagai Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan layak disebut sebagai blunder politik.
“Bagaimana mungkin partai sebesar PDIP, yang kerap mengklaim diri sebagai partai ideologis dan pejuang moral politik, justru mengedepankan sosok yang pernah divonis bersalah dalam kasus hukum, “ujar Junaidi dengan nada bertanya dihadapan Wartawan pada Jumat 22 Agustus 2025.
Publik tidak lupa, bahwa Hasto bukanlah korban politik, melainkan pelaku yang sudah terbukti bersalah oleh pengadilan.
“Statusnya sebagai mantan napi memang “dihapus” oleh amnesti dari Presiden Prabowo Subianto. Namun, amnesti adalah keputusan politik, bukan penghapusan moral,”
Menurut Junaidi Luka integritas itu tetap ada, dan justru semakin dipertanyakan ketika seorang yang pernah menjalani hukuman kini kembali diberi posisi strategis.
“Blunder Megawati semakin nyata ketika penunjukan Hasto dibaca publik sebagai sikap abai terhadap aspirasi rakyat. Di saat masyarakat muak dengan korupsi dan menuntut peremajaan politik,”imbuhnya.
Dititik itu, PDIP malah mengedepankan wajah lama dengan rekam jejak yang bermasalah. Bagaimana partai ini bisa berbicara soal pemberantasan korupsi atau moral politik,
“jika di tubuhnya sendiri masih menampung figur bermasalah? “tanya Junaidi lagi.
“Sebagian kalangan mungkin saja  membela Megawati dengan dalih loyalitas Hasto kepada partai, “sambungnya.
Tetapi kata Junaidi, Loyalitas semacam itu hanya penting bagi elit partai, bukan bagi rakyat pemilih. Loyalitas tanpa integritas bisa berpotensi hanya akan menyeret partai ke dalam ketidakpercayaan publik.
“Kini bola ada di tangan publik. Apakah masyarakat akan terus membiarkan partai-partai besar melanggengkan budaya politik “asal loyal, asal setia” meski dengan catatan hitam masa lalu,”ulasnya
Atau, justru momentum ini menjadi alarm bahwa rakyat harus lebih kritis, bahwa partai yang tidak belajar dari kesalahan seharusnya tidak lagi diberi kepercayaan di bilik suara.
“Pada akhirnya lanjut Junaidi, bahwa amnesti mungkin bisa membebaskan seseorang dari jerat hukum, tapi tidak juga pernah bisa menghapus catatan moral di mata rakyat,”tegasnya
“Kendati keputusan Megawati menunjuk kembali Hasto adalah blunder yang bisa menjadi bumerang bagi PDIP menjelang Pemilu 2029, “pungkasnya (Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini